Tampilkan postingan dengan label wisata jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2012

Wisata Budaya di Kampung Cina

Gerbang Kemakmuran di Kampung Cina, Cibubur
Mau jalan-jalan ke kawasan Pecinan di sekitaran Jabotabek? Coba saja teman-teman mampir ke Kampung Cina di daerah Cibubur, tepatnya sih ada di dalam bagian dari Kota Wisata Cibubur. Di Kampung Cina ini, wisata budaya plus wisata belanja bakal jadi menu utama.

Pada bagian pintu masuk dari Kampung Cina ini, kita akan disambut oleh gerbang yang mirip dengan pintu masuk sebuah kota yang ada di Cina sana, kalau tidak salah kota itu adalah Kota Terlarang. Gerbang yang berbentuk setengah lingkaran itu dinamakan Gerbang Kemakmuran.

Di kawasan Kampung Cina ini juga, kita akan menemukan banyak bangunan dengan arsitektur Cina. Kemudian, ada juga patung-patung ala masyarakat Cina. Sepanjang jalan di Kampung Cina ini juga terdapat banyak kursi dari batu khas Negeri Tirai Bambu itu. Pokoknya, nuansa Cina benar-benar terasa di perkampungan ini.

Kios cinderamata Kampung Cina
Bagi teman-teman yang suka belanja, dijamin akan dimanjakan kalau berkunjung ke Kampung Cina ini. Pasalnya, di sini banyak sekali kios-kios yang menjajakan aneka barang, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan Cina. 

Yang paling mudah ditemui adalah baju chongsam alias baju merah khas orang Tionghoa. Lalu ada juga aneka pernak-pernik seperti tas, dompet, dan lainnya dengan tambahan aksesoris berupa bordiran khas Cina.

Di saat-saat tertentu, terutama di hari-hari besar yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, kawasan Kampung Cina ini akan sangat ramai. Terlebih juga, pada saat itu sering kali digelar pertunjukan-pertunjukan budaya dan kesenian khas Cina seperti barongsai atau atraksi ilmu bela diri kungfu dan wushu. 

Jalan-jalan di Kampung Cina
Berwisata ke Kampung Cina, banyak hal baru yang bisa kita jumpai. Di sana kita bisa lebih mengenal budaya Cina. Bagaimana, menarik bukan? Selamat berwisata.

Gambar : http://www.kota-wisata.com, http://wordpress.com, http://www.indonesiabox.com

Kamis, 20 Oktober 2011

Wisata Keluarga di Kebun Binatang Ragunan

Atraksi gajah di Kebun Binatang Ragunan
Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Kebun Binatang Ragunan sudah tentu tak asing lagi. Tempat yang satu ini merupakan salah satu ikon wisata dari ibu kota negara ini. Di sini, ratusan satwa dikumpulkan dan dipeliharan dengan baik.

Hari Minggu kemarin, tepatnya 16 Oktober lalu, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk berwisata ke Kebun Binatang Ragunan. Tujuannya, adalah untuk mengenalkan atau menunjukan secara langsung kepada putri saya yang masih balita, satwa-satwa yang sering ia lihat di televisi, seperti gajah, jerapah, ular, kera, dan lain sebagainya.

Dari rumah saya di sekitaran perbatasan Jakarta Tangerang, kami berangkat pukul 8 pagi dengan mobil. Langsung meluncur via tol Bintaro - Pondok Indah, kami sampai di Ragunan satu jam kemudian. Perjalanan kami cukup lancar, karena hari Minggu yang agak lengang.

Setibanya di Ragunan, kami langsung bergegas membeli tiket masuk. Ternyata, sejak terakhir kali saya ke Kebun Binatang Ragunan ini beberapa tahun silam, harga tiketnya tak berbeda jauh. Kemarin, saya membeli tiga tiket masuk, masing-masing seharga Rp 4.500, cukup murah bukan.

Papan informasi tentang gajah Sumatera
Karena sampai di kebun binatang masih pagi, suasananya belum begitu ramai. Seketika itu juga kami mengarah ke area gajah. Di sana, tampak beberapa ekor gajah sedang mandi dan sebagian lainnya sedang asyik makan dedaunan. Putri kecil saya pun terkagum-kagum melihat gajah yang terlihat begitu besar baginya. Sesekali, ia memberanikan diri untuk mengambil foto si gajah dengan menggunakan kamera handphone ibunya.

Tak jauh dari lokasi gajah, tampak lokasi jerapah yang sudah mulai ramai pengunjung. Bergegas juga kami menuju ke lokasi itu. Begitu sampai, saya sampai shock sendiri melihat leher jerapah yang panjang. Maklum norak, selama ini saya lihat jerapah cuma dari televisi atau gambar di koran saja.

Sesekali juga, di bawah rindangnya pohon-pohon di Kebun Binatang Ragunan, tampak melintas delman-delman yang membawa pengunjung kebun binatang berkeliling. Kemudian, ada juga kereta mini yang merupakan hasil modifikasi dari sebuah mobil yang juga meluncur berkeliling membawa pengunjung kebun binatang.

Hari menjelang siang, kaki saya terasa pegal juga berjalan ke sana kemari. Sambil beristirahat, kami menepi di arena bermain anak. Di sana putri saya tadi saya biarkan bermain odong-odong, kemedi putar, dan juga mini bom-bom car. Arena bermain ini menggunakan sistem koin. Harga satu koinnya Rp 6 ribuan.

Pengunjung juga bisa berkeliling Kebun Binatang Ragunan dengan mobi kereta api
Sekitar satu jam di arena bermain ini, kami pun melanjutkan tur kecil kami di Kebun Binatang Ragunan ke sebuah lokasi khusus primata yang bernama Pusat Primata Schmutzer. Untuk masuk ke lokasi ini, pengunjung dikenakan biaya Rp 5 ribu. Dan untuk anak-anak di atas usia 3 tahun juga dikenakan biaya dalam jumlah yang sama. Oiya.. jika kita masuk ke pusat primata ini dilarang membawa makanan, minuman, rokok, atau juga korek api. Sebelum masuk, semua barang-barang itu harus dititipkan ke petugas penitipan yang ada. Menitipkan barang ini gratis kok, jadi gak perlu khawatir akan dikenai biaya lagi.

Di pusat primata ini, bermacam jenis primata berkumpul dan bermain di area yang sengaja didesain seperti hutan belantara. Pepohonan sangat banyak, bahkan di antaranya ada pohon-pohon besar. Di pusat primata ini, pengunjung bisa bertemu dengan gorila, siamang, monyet, orang utan, dan lainnya.

Tak lama, hari pun berganti petang. Merasa sudah cukup lelah, kami pun memutuskan untuk menyelesaikan perjalanan wisata keluarga di Kebun Binatang ini. Dalam hati saya, banyak hal yang bisa kita pelajari dari satwa-satwa yang ada di kebun binatang ini. Bagi para keluarga Jakarta yang ingin berwisata, tapi tak ingin jauh-jauh, Kebun Binatang Ragunan bisa jadi pilihan yang tepat. Selain dekat, biaya juga hemat.

Kamis, 30 Juni 2011

Wisata Jakarta.. Monas Salah Satu Ikonnya

Ini dia salah satu ikon Jakarta, Tugu Peringatan Nasional atau yang lebih dikenal sebagai Monumen Nasional atau yang biasa disingkat Monas. Meski berada di Jakarta, sesungguhnya Monas adalah sebuah simbol nasional. Simbol dari perjuangan bangsa Indonesia untuk memerdekakan dirinya dari penjajahan.

Tugu Monas yang berdiri tegak di kawasan Jl.  Medan Merdeka, Jakarta Pusat ini merupakan salah satu monumen yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan melawan  penjajah Belanda.

Kokohnya tugu Monas yang menjulang tinggi ini melambangkan lingga (alu atau antan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Pelataran cawan melambangkan yoni (lumbung). Maksudnya,  alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat di hampir setiap  rumah penduduk Indonesia.

Monas ini mulai  dibangun pada Agustus  1959  di areal seluas 80 Ha, dan diarsiteki  oleh Soedarsono  dan Frederich Silaban,  dengan konsultan Ir. Rooseno. Monumen ini diresmikan pada 17 Agustus 1961  oleh Presiden RI  saat itu, Ir. Soekarno dan resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli  1975 .
Keistimewaan bangunan Monas adalah pada bentuk tugunya yang unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni setinggi 137m. Di puncak Monas terdapat cawan yang menopang nyala oborperunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg.

Dari pelataran puncak Monas,  pengunjung dapat menikmati pemandangan hiruk-pikuk dan keramaian suasana seluruh penjuru kota Jakarta. Menengok ke arah selatan, dari kejauhan akan tampak Gunung Salak berdiri kokoh. Sementara di arah utara, laut lepas membentang dengan pulau-pulau kecil  berserakan kumpulan Pulau Seribu. Dari arah barat, tampak Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu  terlihat pesawat lepas landas. Dan di pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat  lidah api terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton, berdiameter 6 m, dan terdiri dari 77 bagian yang disatukan.