Tampilkan postingan dengan label kuliner nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

Nasi Megono, Menu Khas Kota Batik

Nasi megono, nasi dan urap nangka
Kota Pekalongan, Jawa Tengah dikenal sebagai kota batik. Kebanyakan orang pun tahu, kalau mau cari batik yang bagus ya Pekalongan tempatnya. Pun begitu, ada juga kota-kota lain yang juga memproduksi batik berkualitas, misalnya Solo dan Jogja.

Keluarga ibu saya berasal dari Pekalongan. Bisnis batik Pekalongan bukan menjadi hal yang baru bagi saya. Maklum saja, ibu saya juga punya usaha batik Pekalongan yang dikembangkan di Jakarta. Dan sesekali, saya juga turut membantu untuk berbelanja batik di Pekalongan.

Kali ini saya tidak akan bercerita tentang batik, melainkan bercerita tentang salah satu salah satu makanan khas Pekalongan, yakni nasi megana atau sego megono dalam pelafalan bahasa Jawa. Nasi megono ini sangat populer di Pekalongan, kalau di Jakarta bisa diibaratkan sebagai nasi uduk Betawi yang kondang itu.  

Nasi megono juga biasa disajikan bersama gulai kambing
Nasi megono merupakan nasi putih yang dicampurkan dengan urap nangka. Cara memasaknya adalah dengan dikukus. Potongan kecil buah nangka bertabur parutan kelapan akan tersaji sedap di atas piring. Di kota asalnya, nasi megono biasa disajikan sebagai menu sarapan. Dan pasangan idealnya sebagai lauk adalah tahu tempe atau ayam goreng.

Di Pekalongan sendiri sangat mudah menemukan nasi megana. Setiap warung makan pasti menyediakan menu makanan ini. Dan beberapa di antara pedagang itu masih ada yang menyajikan nasi megono dengan gaya tradisional, yakni dihidangkan di atas pincuk daun pisang, ehm.. lezatnya.

Sesekali, sebagai pengobat rindu akan kampung halaman, ibu saya suka membuat sendiri nasi megono. Ditambahkan dengan emping si keripik melinjo, nasi megono buatan ibu saya itu sangat nikmat apalagi disantap ketika hangat.

Nah, kalau di antara teman-teman nanti ada yang berkunjung ke Pekalongan, jangan lupa beli batik sebagai oleh-oleh dan juga cicipi sedapnya nasi megono.
 
Gambar : www.blogspot.com, www.multiply.com

Selasa, 18 Oktober 2011

Lezatnya Kuliner Khas Cirebon

Stasiun KA Cirebon
Dengan menggunakan kereta api, selama kurang lebih sekitar 4 jam dari Jakarta saya sudah sampai di stasiun KA Cirebon. Perjalanan saya kali ini kebetulan untuk urusan kantor, jadi tak banyak tempat yang saya singgahi untuk urusan jalan-jalan.

Meski tak sempat, plesir di Kota Udang ini, saya masih menyimpang kesenangan karena sukses mencicipi sajian kuliner khas Cirebon yang uenaak tenan, apalagi kalau bukan nasi jamblang dan empal gentong plus empal asem.

Nasi jamblang berbungkus daun jati
Oiya.. nasi jamblang itu merupakan nasi yang biasa dimakan untuk sarapan. Biasanya dibungkus dengan daun jati. Konon, nasi jamblang ini sudah mulai dikenal banyak orang sejak tahun 1930. Lauk-pauk yang menemani nasi jamblang juga beraneka macam. Mulai dari tempe dan tahu goreng atau bacem, kemudian ada ikan, daging, serta sate telur. Ehm, kebayang kan enaknya. Harganya juga cukup murah, satu daun nasi jamblang Cuma Rp 5 ribuan, ditambah dengan lauk pauknya, antara Rp 1000 sampai Rp 5000-an, tergantung lauk yang kita ambil.

Di Cirebon sendiri, kalau mau menikmati nasi jamblang banyak tempat atau rumah makan yang bisa dijadikan sasaran. Tapi kebetulan, kemarin saya mampir ke warung makan di daerah Jl. Ciptomangunkusumo. Warung-warung makan penjaja nasi jamblang umumnya buka pada pagi hari, mulai sekitar pukul 6 pagi sampai dagangan habis.

Empal gentong berkuah santan
Siang harinya, tak ketinggalan saya coba menu empal gentong dan empal asem. Buat yang punya masalah dengan kolesterol, saran saya sebaiknya hindari makanan ini. Sebab, makanan berkuah ini berisi jeroan atau daging sapi. Empal gentong sendiri biasanya dihidangkan bersama dengan lontong dan kerupuk kulit. Yang membedakan antara empal gentong dan empal asem adalah kuahnya, empal gentong menggunakan santan sedangkan empal asem tidak dan ditambahkan sedikit perasan belimbing wuluh yang asem, rasanya dijamin segerr.

Menikmati empal gentong dan empal asem bisa menuju ke daerah Krucuk dan Plered. Di kedua daerah itu, empal gentong dan empal asemnya tersehor karena rasanya yang enak dan lezat.

Ada tahu dan tauge di nasi lengko
Perjalanan wisata kuliner saya di Cirebon juga masih menyisakan cerita lezat lainnya, seperti pertemuan saya dengan nasi lengko dan sate kambing Cirebon yang bikin perut kenyang. Kemudian ada juga “pesta seafood” alias bertemu dengan banyak pedagang makanan seafood kaki lima di alun-alun Cirebon pada malam harinya.

Kuliner Cirebon memang gak ada duanya. Semua makanannya enak dan lezat. Kalau di antara teman-teman ada yang berkunjung ke Cirebon suatu saat nanti, jangan lupa untuk mencicipi makanan-makanan khas Cirebon yang saya sebutkan tadi. Selamat makan.   
 
Gambar : www.blogspot.com

Kamis, 29 September 2011

Banyak yang Enak di Festival Kuliner Nusantara


Hari Minggu lalu, saya dan keluarga menyempatkan diri jalan-jalan ke salah satu mall yang ada di daerah Gading Serpong, Tangerang. Mall tersebut cukup besar, ramai, dan lengkap. Satu yang menarik perhatian saya, rupanya di mall itu sedang ada acara yang namanya Festival Kuliner Serpong. Wah, pasti banyak makanan enak, begitu pikir saya saat itu.
Benar saja, begitu masuk ke bagian pelataran mall, sudah berjajar puluhan stand penjaja kuliner, yang semuanya menyediakan makanan khas Indonesia, luar biasa. Pertama saya coba mendatangi stand nasi, di deretan ini ada bermacam masakan nasi asli nusantara, misalnya nasi Bali, nasi jenggo, nasi kucing, nasi ayam betutu sambel gledek, dan lain sebagainya.

Sesaat saya mencoba nasi kucing, sekedar mau tahu saja apa sih bedanya dengan nasi kucing yang biasa dijual oleh pedagang ankringan di Jogja sana. Ehm.. rupanya hampir sama, sama-sama enak, sama-sama berlaukan kering tempe dan teri serta sedikit sambal Jawa.
Selepas menikmati nasi kucing tadi, kembali saya berkeliling untuk melihat lebih jauh makanan nusantara apa saja yang ada, selain nasi. Yang sempat saya lihat antara lain sate kuda, ketupat sayur, rujak bebek, es cendol.. wah-wah, semuanya makanan ndeso yang super lezat.
Mengunjungi festival makanan Indonesia ini, terutama di hari Minggu lumayan ramai. Banyak pengunjung yang berebut ingin mencoba macam-macam makanan nusantara tadi. Dalam benak saya, kapan lagi bisa menemukan makanan tradisional yang unik, kalau tidak di acara-acara seperti ini.
O..ya, acara festival makanan Indonesia ini berlangsung selama beberapa hari, dari tanggal 23 September sampai 9 Oktober mendatang. Jadi buat teman-teman sekalian yang mau coba icip-icip makanan tradisional Indonesia, masih ada kesempatan untuk datang ke acara ini.
Gambar:
http://serpong.kompas.com/

Kamis, 22 September 2011

Sedapnya Kue Betawi dari Tetangga

Kuliner Indonesia memang tiada duanya. Dari Sabang sampai Merauke, banyak makanan unik yang menjadi ciri khas dari daerahnya masing-masing. Dan satu hal yang pasti juga, makanan Indonesia punya rasa yang istimewa.

Bicara tentang makanan, beberapa hari lalu saya dapat kiriman kue dari tetangga di rumah. Kebetulan tetangga saya itu orang Betawi asli, dan diberinyalah saya beberapa kue tradisional khas Betawi. Saya coba satu dua potong kuenya, benar-benar enak rasanya.

Kue-kue khas Betawi pemberian dari tetangga saya tadi menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Mengupas setitik kecil dari besarnya kekayaan kuliner tanah Jakarta, khususnya untuk jenis kue tradisional atau yang sering disebut orang sebagai kue jajanan pasar.

Uli khas Betawi
Uli

Kue atau panganan ini dibuat dari bahan dasar beras ketan dan kelapa parut, yang dimasak dengan cara dikukus. Setelah matang dikukus, adonan uli itu ditumbuk hingga halus yang kemudian didinginkan dan disajikan dalam bungkusan daun pisang. Di kalangan tetangga dan teman-teman saya yang orang Betawi, ada gurauan yang bunyinya “bukan orang Betawi namanya kalau gak bisa bikin uli”. Rasa uli ini cukup gurih, dan akan semakin nikmat jika dihidangkan bersama minuman manis semisal teh atau kopi.

Si coklat yang manis, kue cucur
Kue Cucur

Barangkali, Anda yang tinggal di sekitar Jabodetabek sudah taka sing dengan kue cucur ini. Kue yang biasanya berwarna coklat, yang pada bagian tengahnya lebih tebal dari pada tepi-tepinya. Kue ini masuk dalam kue manis dan juga punya rasa yang lezat. Kue cucur ini juga terbuat dari tepung beras.

Garing, guringnya kembang goyang
Kembang Goyang

Kue yang satu ini juga tak kalah istimewa. Namanya yang “kembang goyang” cukup menggelitik. Jika ada pertanyaan kenapa namanya harus kembang goyang? Itu karena bentuknya yang seperti bunga atau kembang, dan harus digoyang-goyang – adonan besert cetakannya, ketika digoreng.Karena digoreng kering, kue ini cukup crispy dan renyah ketika disantap.

Pesor yang mirip lontong
Pesor

Nah, kalo yang satu ini tampilannya mirip dengan lontong. Biar begitu, pesor punya rasa yang lebih gurih dan pekat. Pesor ini biasanya dihidangkan ketika lebaran bersama opor ayam dan sayur sambal godok khas Betawi. Tapi, kalau mau sekedar icip-icip pesor ini bisa juga menyantapnya bersama dengan gongsengan kelapa atau serundeng.. ehm, dijamin leker.

Sebenarnya masih banyak kue khas Betawi lainnya yang spesial punya seperti  kue cincin, kue cawan, kue putu, atau wajik. Dari sekian banyak kue khas Betawi, beberapa di antaranya masih bisa kita temukan dengan di sejumlah penjual kue tradisional. Tapi ada juga sebagian kue lainnya yang sudah sulit ditemukan di pasaran, kalau pun ada hanya bisa ditemukan di acara-acara khusus keluarga Betawi seperti hajatan atau pun hari lebaran.  

Gambar: google